Renungan Harian – Rabu, 27 November 2019

November 27, 2019
renungan harian katolik
MENERIMA YESUS DI PUNCAK KALVARI
27 November 2019
RABU (H)
Daniel 5: 1-6, 13-17, 23-28
MT Dan 3: 62-67
Lukas 21: 12-19
(12) Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. (13) Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. (14) Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. (15) Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. (16) Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh (17) dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. (18) Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. (19) Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
“Kalau kalian tetap bertahan , kalian akan memperoleh hidupmu!”—Lukas 21: 19
DALAM INJIL hari ini Yesus mengingatkan murid-murid-Nya, “kamu akan ditangkap dan dianiaya., kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena Nama-Ku”. Dan pada ayat berikutnya, dikatakan, “… Kalian akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudarimu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu, dan beberapa orang akan dibunuh karena Nama-Ku”. Hal ini sangat relevant sekali saat ini untuk kita yang ada di Indonesia, bukan hanya dalam Sejarah Gereja di abad-abad pertama.
Nama Yesus menjadi ‘identitas kita’ . Indentitas ini membawa konsekuensi dan tantangan tersendiri di tengah-tengah masyarakat yang berkeyakinan lain, apalagi kalau mereka sudah memiliki ‘buruk sangka’ terhadap para pengikut Kristus. Dalam tahun ini saja, ada berita dari Yogyakarta, seorang seniman katolik pindah dan mengkontrak rumah di suatu daerah. Ketahuan ia katolik, pak RT mendatangi dan meminta pergi dari tempat itu. Bulan Agustus tahun ini, ada teman karena pensiun mau balik ke daerah Yogyakarta, karena sampai di tempat yang baru dengan selamat, ia mengadakan ‘syukuran’ secara katolik. Sewaktu syukuran didatangi ketua RT untuk menghentikannya. Mengapa ? Karena “Nama Yesus’ ! Belum yang kisah klasik, upama, ‘sukarnya izin membangun tempat ibadat, sukarnya kenaikan karir karena pengikut Kristus.’ Suatu tindak intoleransi dan perlakuan diskriminatif.
Namun Yesus juga meyakinkan kitapara murid-Nya untuk tidak usah takut akanmacam-macam bentuk intimidasi. Ia berada berserta kita. Ia selalu siap membantu dan membela kita. Yesus telah berjanji, “Tetapkanlah dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat , sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu” (Luk 21: 15).
Doa :Bapa perteguh hatiku sebagai murid Putera-Mu untuk berani memasang lambang-lambang iman kristiani dan tak malu mengakui identitasku.
Janji:“Kalau kamu tetap bertahan , kamu akan memperoleh hidupmu” —Lukas 21:19
Pujian: Sharing Pak Trisna sebagai dalam Temu Lingkungan sebagai berikut. Iasatu-satu keluarga katolik yang tinggal di tengah lingkungan RT yang mayoritas berkeyakinan lain. Karena rumahnya di pinggir gang umum, suatu ketika Pak Trisna selalu menemukan sampah dan kotoran di depan pintu masuk halamannya. Itu terus berulang terjadi. Setelah dua minggu, dia mengintai.Ternyata ada remaja atau pelajar tiap pagi lewat di depan rumahnya dan melemparan onggokan sampah dan kotoran di pintu halaman. Waktu melihat, langsung pak Trisno keluar dan membawa onggokan sampah dan kotoran itu kepada remaja yang baru saja lewat. Dengan halus ia menegurnya. Hari berikutnya tak terjadi lagi lemparan sampah dan kotoran.