Renungan Harian – Rabu, 20 November 2019

November 20, 2019
renungan harian katolik
KITAB YANG INSPIRATIF
20 November 2019
RABU (H)
2 Makabe 7: 1. 20 – 31
Mzm 17: 1. 5-6, 8b, 15
Lukas 19: 11-18
(11) Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. (12) Maka Ia berkata: “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. (13) Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. (14) Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. (15) Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. (16) Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. (17) Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. (18) Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.
SEJAK SENIN , dalam Pekan Biasa ke-33, dua hari lalu, Gereja menurunkan bacaan pertama dari Kitab Makabe. Terus terang kita jarang membaca kedua Kitab Makabe,yang digolongan sebagai kitab Deuterokanonika dan ditempatkan pada urutan terakhir. Di situ kta temukan kisah-kisah yang inspiratif, khususnya kisah kemartiran. Kisah seorang ibu dengan tujuh anaknya yang ditangkap penguasa penjajah dan disuruh makan makanan haram. Anak-anak dan ibu memilih tetap setia pada Hukum Taurat, yang berarti terancam hukuman mati, daripada melanggarnya.
Kepada si bungsu ibu tadi meneguhkan hatinya, agar dia seperti kakak-kakaknya . “Terimalah maut itu, supaya aku mendapatkan kembali engkau bersama kakak-kakakmu di masa belas kasihan kelak” (2 Mak 7: 29). Demikian pula sebelumnya kisah Eleazar, seorang ahli Taurat. “Demikian berpulanglah Eleazar dan meninggalkan kematiannya sebagai telada keluhuran suci dan sebagai perinatan kebajikan, tidak hanya untuk kamu muda, tetapi juga bagi kebanyakan orang dari bangsanya” (2 Mak 6:18-31). Itulah antara lain, kisah keberanian dan keteguhan umat Yahudi dalam mengikuti kehendak Allah.
Maksud penyusun Kitab-kitab Makabe , yaitu ingin meneguhkan iman kepercayan bangsanya. Setiap orang Yahudi diajak agar tetap berpegang teguh berkomitmen setia pada ajaran agama dan adat istidat mereka, sebagai bangsa yang terpilih Allah. Yang lebih radikal lagi, adanya ajakan tersirat agar setiap orang Yahudi berani mati demi iman kepercayaan dan adat istiadatnya. Pentingnya orang Yahudi meneladan mereka-mereka yang telah gugur demi Hukum Taurat.
Kitab-kitab Makabe mengungkapkan kisah-kisah yang memberi inspirasi yang sangat positif, tak hanya menjadi sumber inspirasi di zaman itu. Dan bagi kita di zaman milenial ini, teladan seperti itu tetap relevant. Di abad ke-21 inipun tetap dibutuhkan martir-martir modern, yang menjadi ‘pembeda’ yang menandai keunggulan seorang yang beriman kristiani. Kita juga boleh menafsir ‘kemariran’ dalam bentuk lain, yakni berani karena iman kita meninggalkan dan menanggalkan segala sesuatu yang tak sejalan dengan ‘kehendak Allah’.
Doa : Bapa, berilah kami keberanian untuk bersaksi bahwa kami-kami ini murid Yesus Putera-Mu yang dilandasi oleh hukum kasih yakni berani berkorban utuk sesama.
Janji : “Aku berkata kepada , setiap orang yang mempunyai, ia akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai daripadanya akan diambil, juga apa yang ada padanya” — Lukas 19: 27
Pujian: Luciana Sawitri, satu-satunya karyawati katolik di kantornya. Awalnya sering ia mendapat cibiran dan sindirian dari teman-teman sekantornya. Tetapi ia tetap teguh dan tak gentar. Ia tetap senyum kepada mereka-mereka itu, yang menyebabkan mereka tak tahu bagaimana harus bertanggap. Hasilnya, tak ada sebulan tak ada teman sekantornya yang mau menyindir dan mencibir lagi.