Renungan Harian – Minggu, 19 Juli 2020

July 20, 2020
renungan harian katolik
MINGGU
(Hijau),
19 JULI

Hari Minggu Biasa XVI
Kebijaksanaan 12:13,16-19;
Mazmur 86:5-6,9-10,15-16a;
Roma 8:26-27;
Matius 13:24-43 (atau singkat ayat 24-30)

24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. 26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? 28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. 30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

OPTIMIS SAAT KRISIS

“Azas keadilan-Mu ialah kekuatan-Mu, dan karena Engkau memerintah semuanya, maka Engkau menyayangkan segala-galanya” — Kebijaksanaan 12:16

MATIUS MENULIS Injilnya sekitar tahun 85-90, saat umat Kristen Gereja Perdana berhadapan dengan kebangkitan Yudaisme pasca penghancuran Kota Yerusalem tahun 70-an. Saat itu, baik Yudaisme maupun Kekristenan sedang mengalami krisis identitas. Berbekal pengalaman Perang Yahudi-Roma (th 66-73) dan hancurnya Yerusalem (bdk. Mat 22:7), Matius menekankan kekuatan tangan Allah yang melebihi upaya manusia. Itulah ciri utama Kerajaan Surga, yang melalui karya dan pewartaan Yesus tumbuh, dan berkembang di luar perhitungan manusiawi.

Melalui perumpamaan biji sesawi (Yun. sinapsis) yang sangat kecil, ditunjukkan bahwa Kerajaan Allah itu berkembang tidak hanya melampaui segala jenis sayuran lainnya, tetapi bahkan menjadi pohon (Yun. dendron) (ay 32). Lalu, dengan memakai gambaran pohon yang memberi naungan dari Yeheskiel 17:23 dan 31:6, Yesus menunjukkan bahwa di pohon sesawi itulah “burung-burung di udara datang dan bersarang pada cabang-cabangnya” (ay 33). Inilah gambaran arus manusia yang akan datang “dari Timur dan Barat untuk duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga” (Mat. 8:11).

Ada warna optimisme iman akan karya Allah di saat krisis identitas, karena proses transformasi yang diciptakannya itu bagaikan ragi yang “dipendam di dalam terigu” (ay.33); ia bertumbuh secara luar biasa!

Pertanyaannya, apakah kita bersedia menerima proses tersebut seperti yang diyakini oleh Paulus, yaitu bahwa “telah menjadi nyata kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Kor 4:7). Atau sebaliknya, kita tetap mengandalkan kemampuan dan kekuatan diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh Yudaisme menjelang akhir Abad Pertama?

Menjadi Kristen adalah membuka diri pada karya Ilahi; itulah makna doa “datanglah Kerajaan-Mu, jadikanlah kehendak-Mu di Surga maupun di Bumi” (Mat. 6:10). (WIT)

DOA   : Tuhan, berbagai musibah telah terjadi sejak awal tahun 2020. Manusia kemudian mencari ‘kambing hitam’ musibah tersebut. Ampunilah kami Tuhan, apabila kami juga ikut menyalahkan Engkau. Kembalikanlah iman kami akan kekuatan-Mu, yang melampaui pikiran manusia.
JANJI  : “Engkau Penguasa yang kuat, mengadili dengan belas kasihan, dan dengan sangat hati-hati  memperlakukan kami” — Kebijaksanaan 12: 18
PUJIAN : Sejak awal munculnya pandemi Covid-19 di Indonesia, Februari 2020, ketakutan luar biasa melanda semua golongan orang. Kekayaan, pangkat, kedudukan, dan bahkan jasa besar,  menjadi ‘bukan apa-apa’. Saat orang itu mati karena Covid-19, ia harus ‘sendirian’, tanpa upacara keagamaan, tanpa keluarga, tanpa pelayat. Maka hanya melalui iman, kita mampu bertahan. “Yesus, Engkaulah Andalan kami semua ”. Itulah Doa Koronka Kerahiman Ilahi.