BERMURAH HATI

March 1, 2021


Oleh RP Albertus Herwanta, O. Carm


Kecenderungan manusiawi, membalas kejahatan dengan kejahatan. Melakukan hal itu bukan pertanda orang mampu melebihi kodratnya. Panggilan dan tujuan sejati hidup manusia mesti melampaui itu.

Manusia dipanggil untuk menjadi sempurna seperti Allah juga sempurna (Mat 5: 48). Sulit! Bagaimana hal itu dapat dipraktikkan dalam kehidupan manusia di dunia ini? Menempuh langkah Allah. Terdengar absurd?

Kitab Daniel menegaskan bahwa Allah mengampuni umat-Nya Israel yang berlaku jahat dan memberontak terhadap-Nya. Mereka dibuang selama 70 tahun di Babel sebagai akibat dosa dan pelanggarannya. Bukan Allah, tapi mereka sendiri faktor penyebabnya. Allah justru memulihkan dan membawa mereka kembali ke tanah airnya. Allah itu berbelas kasih.

Allah tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia selalu melakukan kebaikan. Manusia diajar untuk melakukan yang sama. Banyak orang mengajarkan hal ini sebagai semacam teori etika. Namun para pengajar itu sendiri gagal mempraktikkannya.

Hanya satu guru yang benar-benar seratus persen selaras dalam kata dan tindakan yang menyangkut belas kasihan dan pengampunan. Yang diajarkan mewujud dalam dirinya. Dialah Sang Guru Kehidupan.

Dia mengajar, “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah, dan kamu akan diampuni. Berilah, dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik dan dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Luk 6: 36-38).

Ketika dihina Dia tidak menghina; saat disiksa dan diperlakukan tidak adil, Dia tidak marah dan membalas. Dia mengampuni mereka yang berbuat jahat kepada-Nya dan mendoakan mereka yang menggantung-Nya di kayu salib. Karena itu, Dia itu sungguh baik, benar dan ilahi. Dia murah hati. Yang bermurah hati akan mengalami kemurahan hati.

Orang patut bersyukur bila memiliki pemimpin di dunia yang demikian. Orang macam itu sudah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka mengutamakan kepentingan rakyat dari pada kepentingan diri. Mampu mengampuni waktu dihina, dicaci-maki, dicemooah dan difitnah. Hanya orang yang demikian itu dapat menjadi pemimpin yang bermurah hati.

Senin, 1 Maret 2021