LAMPU MERAH

June 9, 2021


Di dalam kota yang sangat padat lalu lintasnya, apa yang terjadi ketika semua “traffic light”‘-nya mati? Kemacetan di mana-mana; kepanikan terjadi dan emosi orang tak kendali. Saling berebut membuat lalu lintas justru makin semrawut.

Begitulah gambaran suatu masyarakat yang tanpa hukum dan aturan. Pelbagai macam pelanggaran terjadi. Hak orang tidak terpenuhi. Yang kuat memakan yang lemah. Manusia menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus)! Gagal jadi manusia.

Karena menyadari bahwa hukum dan aturan amat diperlukan, Sang Guru Kehidupan bersabda, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5: 17). Apa yang dimaksudkan-Nya?

Sang Guru datang untuk menggenapi hukum yang sudah tertulis. Antara lain, dua hukum berikut ini. Pertama, “Hendaklah kamu kudus, sebab Aku Tuhan Allahmu adalah kudus” (Im 19: 2). Kudus atau “holy” berarti utuh (“whole”) dan sempurna. Ingat Sabda Sang Guru, “Hendaklah kamu sempurna seperti Bapa-mu di surga sempurna” (Mat 5: 48)? Dia itu sosok konkret manusia sempurna.

Kedua, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6: 4-5). Hukum ini merupakan inti dari semua hukum yang menghantar manusia menjadi utuh. Kasih sempurna nyata dalam pribadi Sang Guru Kehidupan.

Seperti halnya lampu di perempatan jalan dimaksudkan untuk memperlancar arus lalu lintas, demikian pula hukum dibuat supaya perjalanan mencapai tujuan hidup lancar. Namun banyak orang suka melanggar dan mengabaikan hukum. Bahkan sebagian mengajak orang lain ramai-ramai melanggar hukum. Sikap itu tidak mendukung, tetapi menghambat sesamanya mencapai tujuan hidup.

Terhadap mereka ini Sang Guru bersabda,
“Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5: 19). Apa artinya?

Mereka yang meniadakan hukum itu menjauhkan diri dan sesamanya dari tujuan hidup, yakni kesucian dan kesempurnaan. Sebaliknya, mereka yang mengajarkan dan melakukannya akan tiba di tujuan hidup sejati. Mereka disebut yang terbesar di dalam Kerajaan Sorga. Utuh, suci dan sempurna.

Rabu, 9 Juni 2021
RP Albertus Herwanta, O. Carm.