KATA “CELAKALAH”

August 23, 2021

SENIN 23 Agust 2021PEKAN BIASA XXI. Bacaan :1Tes.1:2b-5.8b-10; Mzm.149:1-2.3-4.5-6a.9b; Mat. 23:13-22.

Injil Matius 23:13, menulis. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yg berusaha utk masuk.

Kata-kata Yesus yang ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menentang diri-Nya barangkali kedengaran  sangat keras bagi telinga kita, meskipun kita dapat saja membayangkan bahwa pantas juga mereka ditegur seperti itu. Kiranya kata “celakalah” yang diserukan oleh Yesus itu bukanlah dimaksudkan untuk “mengutuk”, melainkan pengungkapan keluh kesah hati-Nya, yang terluka karena orang-orang ini telah menolak Dia. Dalam potongan-potongan kalimat yang diulang-ulang ini, kita hampir dapat mendengar suara Yesus yang diwarnai emosi selagi Dia meratapi kekerasan hati orang-orang yang sesungguhnya sangat dikasihi-Nya itu.

Dari kedalaman hati-Nya yang sangat mengasihi kita, Yesus juga meratap sedih, manakala kita – seperti juga para ahli Taurat dan orang-orang Farisi – lebih menyukai tafsir kita sendiri tentang Kristianitas. Apabila kita mendengarkan dengan baik-baik, kita pun dapat mendengar suara-Nya: “Celakalah kamu, yang melihat iman sebagai kewajiban-kewajiban untuk dipenuhi, dan keselamatan sebagai masalah tuntutan yang harus kamu penuhi.” Atau lagi: “Celakalah kamu, yang mengabaikan hukumku, dan membenarkan setiap kesalahanmu dengan memakai kasih-Ku sebagai alasan.”

Hakekat dari kata “celakalah” ini bukanlah bagaimana sempurna atau tidak sempurnanya diri kita. Kita semua telah dan masih suka menyedihkan hati Yesus dengan berbagai cara. Oleh karena itu, sebaiknyalah apabila kita kita memandang atau mengartikan kata “celakalah” Yesus ini sebagai undangan kepada kita semua untuk melakukan pertobatan dan dibebaskan dari hal-hal yang membuat hati-Nya bersedih. Ia ingin melakukan kebaikan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyatakan ketidaksempurnaan manusiawi kita, jauh lebih daripada sekadar melepaskan kesedihan-Nya. Dia ingin mengubah kita menjadi serupa dengan diri-Nya sendiri! Dia ingin membuka hati kita bagi kuat-kuasa dan hikmat-Nya. Dia merindukan hari pada saat mana kita akan dipenuhi dengan pengenalan akan kasih-Nya bagi kita dan menjadi pelayan-pelayan kasih-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Banyak ahli Taurat  dan orang Farisi menolak undangan Yesus. Akan tetapi, penolakan mereka itu tidak berarti bahwa kita sekarang diabaikan. Kita dapat menerima undangan itu. Apa yang harus kita lakukan adalah mengakui bahwa kita perlu disembuhkan dan dibebaskan (lihat Hos 14:2-4), untuk diajar mengikuti pikiran dan cara-cara Allah (Yes 55:8-9), untuk dipimpin oleh Roh Kudus-Nya (Yoh 16:13).

Saudari dan Saudariku, marilah kita memperkenankan Tuhan menyembuhkan diri kita masing-masing. Biarlah darah-Nya membersihkan diri kita masing-masing. Ingatlah apa yang tertulis dalam Kitab Nabi Zefanya: “TUHAN (YHWH) Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya” (Zef  3:17).

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaan penuh pada-Mu. Tolonglah aku melihat di mana saja aku membenarkan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahanku dengan memakai kasih-Mu sebagai alasan bagiku untuk berdalih. Lunakkanlah hatiku dan ampunilah aku. Bersihkanlah diriku dengan darah-Mu, dengan demikian membawa sukacita kepada-Mu pada hari ini. Amin.
Met Hari Senin.