SETERU

November 18, 2020

Romo Albertus Herwanta, O. Carm.

Permusuhan terjadi di mana-mana. Benihnya mulai dari sikap tidak suka, perbedaan pendapat atau pilihan politik. Sedemikian tajam permusuhan di bidang politik hingga membuat suatu bangsa bisa terbelah. Yang satu memihak oposisi, yang lain mendukung pemerintah.

Manusia memang potensial terjebak dalam permusuhan. Bahkan manusia telah melawan Allah. Dengan melanggar hukum yang telah ditetapkan-Nya, manusia menjadikan dirinya seteru Tuhan Allah.

Sulit mengakhiri perseteruan itu tanpa Allah “mengalah”. Dia mendatangi manusia dan mengajak mereka secara halus berdamai dengan Tuhan.

Perumpamaan tentang bangsawan yang akan dilantik menjadi raja dan sebelum berangkat memercayakan mina kepada para hambanya menunjukkan hal itu. Sebagian hambanya memahami maksud tuannya dan mengembangkan uang itu. Sedang yang terakhir menyembunyikan uang itu dan mengembalikan tanpa tambahan apa pun.

Hamba itu dihukum, bukan hanya karena tidak mengembangkan uang tuannya. Tetapi karena tidak melaksanakan amanat tuannya. Bersikap pasif terhadap perintah tuannya berarti melawan alias menjadi seterunya. Karena itu, sang bangsawan berkata, “Setiap orang yang mempunyai akan diberi; tetapi setiap orang yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak mau aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku” (Luk 19: 25-27).

Sang Guru Kehidupan mengajarkan tentang Kerajaan Allah. Artinya, suatu kehidupan yang dipimpin oleh Tuhan sendiri. Ini bukan teokrasi, karena Allah tidak menggunakan manusia untuk mewakilinya seperti pemimpin agama. Allah sendiri menjadi raja yang melindungi dan menjamin kehidupan manusia. Di sini tidak ada politik kotor.

Mereka yang percaya dan taat kepadanya dengan menjalankan ajaran-Nya seperti hamba yang mengembangkan uang tuannya diselamatkan dan boleh mengambil bagian dalam pemerintahan-Nya. Mereka diberi beberapa kota untuk dikuasainya dan diterima sebagai mitra karya-Nya. Itulah gambarannya.

Sebaliknya , mereka yang mengabaikan amanat-Nya dilucuti dari segala miliknya dan dicampakkan ke dalam api. Artinya, dibinasakan. Ini bukan mati duniawi, tetapi mati rohani secara abadi. Tidak mengambil bagian dalam hidup Allah. Betapa mengerikan akhir dari mereka yang menjadikan dirinya seteru Allah.

Malang, 18  November 2020