Renungan Harian – Minggu, 27 Januari 2019

January 28, 2019
renungan harian katolik
27 Januari, 2019 Hari Minggu Biasa III
MINGGU (Hijau)
Nehemia 8: 3-5a,6-7,9-11
Mazmur 19: 8-10, 15
1 Korintus 12: -30
(1 Kor 12: 12-14, 27)
Lukas 1: 1-4; 4:14-21
KEMBALI DAN DITOLAK
“Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan. ….Ia masuk ke rumah Ibadat.”
“ Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota..” — Lukas 1:16. 29
AWAL INJIL Lukas hari ini menarik: “Yesus kembali ke kampung halaman-Nya”, Nazaret. Di situ masa kecil Yesus dan di situ pula Ia dibesarkan dan dikenal oleh orang-orang di kota kecil itu. Tempat itulah yang memberi ‘identitas –jati diri Yesus’ “sebagai orang Nazaret” (Mrk 1:24).
Kita tahu Yesus meninggalkan rumah-Nya untuk pergi menemui Yohanes Pembaptis. Dan sejak bertemu dengannya, pola hidup Yesus berubah. Yesus tidak tinggal di padang gurun dan hidup sebagai pertapa, seperti Yohanes. Yesus telah menerima urapan kenabian dalam pembaptisan-Nya untuk mewartakan ‘zaman baru dari Kerajaan Allah’. Lalu jadilah Yesus sebagai ‘Pengkotbah berjalan’.
Sewaktu Yesus balik ke kampung halaman-Nya, ketenaran Nama-Nya telah mendahului-Nya. Dan ketika Ia masuk ke Sinagoga di hari Sabat, sebagaimana biasanya Ia lakukan, Ia diberi kesempatan untuk menyampaikan ’Firman’. Sebagai titik tolak Yesus membacakan Kitab Yesaya, yang berisi ringkasan indah dari program perutusan-Nya: – menyampaikan Kabar Baik kepada orang miskin; – mewartakan pembebasan kepada orang tawanan; – membuka mata orang buta; – pembebasan bagi yang tertindas; -dan memberitakan Tahun Rahmat Tuhan: di dalam Tahun Rahmat itu, semua hutang-hutang dianggap lunas, hak milik tanah dikembalikan kepada yang berhak (Im 25: 8-55).
Di situ Yesus menunjuk Diri-Nya sebagai ‘pemenuhan dari nubuat zaman dulu’ ; dan saat penampilan Yesus itu, ayat yang dibacakan tadi menjadi suatu kenyataan bagi penduduk kota Nazaret yang mendengarkan-Nya. Awalnya tanggapan pendengar ialah ‘meng-iya-kan’ apa yang dikatakan-Nya. Tetapi sewaktu mereka ingat akan ‘jati diri Yesus’ – siapa Yesus-, mereka tegas mengatakan “Bukankah ini anak Yusuf’-si tukang kayu ? Para tetangga-Nya itu berkeberatan kebijaksanaan Yesus ucapkan itu mengganggu ingatan pengenalan mereka akan Yesus. Sewaktu untuk pertama kali Yesus memperkenalkan Diri-Nya sebagai pengkotah yang menyampaikan nubuat-nubuat , mereka ingat dan kenal sekali alamat rumah tempat tinggalnya serta asal-usul keturunan-Nya. Mereka sama sekali tidak bisa menerima kalau Yesus tumbuh berkembang selaras dengan panggilan dan perutusan-Nya, tetapi mereka ingin memenjara-Nya ke dalam masa lampau dan kepada identitas jati diri Yesus di Nazaret.
Orang-orang itu mungkin lebih senang dan puas akan Diri Yesus dulu bagi mereka daripada ‘Siapa Yesus sekarang ini’ ! Lebih nyaman menerima Yesus sebagai tukang kayu yang memperbaiki meja kursi yang rusak daripada tukang pembaharu hidup orang yang bobrok. Bagi mereka lebih enak mengenal dan menerima Yesus sebagai ‘tukang kayu’ biasa.
Tetapi apa kata Yesus ? Ia mengingatkan para tetangga dan penduduk yang hadir di Sinagoga kota-Nya itu, bahwa tak ada nabi yang diterima oleh orang-orang sekampungnya. Dan justru apa yang disabdakan Yesus itu memancing emosi orang-orang yang ada di situ, sehingga mereka berdiri dan mengusir-Nya, malahan mereka ingin mendorong Yesus jatuh dari tebing ! Dan Yesus selamat dan berhasil lolos. Sejak itu Ia tak pernah kembali lagi ke kampung halaman-Nya.
Bagi kita ? Kita semua ingin mempunyai tempat dan alamat tinggal serta bersapa dengan sesama di kiri kanan. Itulah ‘tempat tinggal’. Di situ kita diterima dengan kasih sebagaimana kita apa adanya. Tetapi juga di mana kita didukung untuk menjadi pribadi selaras dengan perkembangan dan panggilan.
Yesus harus meninggalkan tempat tinggal-Nya guna menjadi ‘Pribadi’ sebagaimana Allah Bapa kehendaki. Semoga kita menjadi orang beriman yang merasa nyaman satu-sama-lain, saling mendukung untuk tumbuh berkembang.
Doa : Terima kasih Yesus, kami telah tumbuh berkembang menjadi dewasa dalam keluarga dan dalam komunitas gereja, sampai saat ini.
Janji : “Aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur
bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu
yang diajarkan kepadamu sungguh benar” — Lukas 1:3-4
Pujian: Keluarga Paijan, tinggal di tengah masyarakat yang berkeyakinan
berbeda, sering mengalami penolakan tetangga, dengan cara ‘tidak disapa’ !