PENTINGNYA PERTOBATAN

February 24, 2021

RP Albertus Herwanta, O. Carm

Bertobat yang berarti berubah ke arah yang benar dan lebih baik mempunyai peran fundamental bagi kemajuan hidup pribadi dan kolektif manusia. Seruan dan ajakan Presiden Joko Widodo lewat Nawa Cita dan program lain demi kemajuan negeri bersumber pada semangat ini.

Beliau mengajak rakyat dan bangsa Indonesia berubah. Meninggalkan cara pikir dan kerja lama yang selama ini mengurung bangsa Indonesia dalam belenggu yang tidak perlu. Birokrasi yang berbelit, intoleransi dan diskriminasi serta mental yang miskin dan sempit mesti dibuang. Membuka diri dan bekerja dengan “mindset” baru seperti bangsa yang maju sangat perlu. Pedomannya adalah mewujudkan Pancasila secara konsekuen dan konsisten. Namun mengajak bertobat selalu penuh tantangan. Ada saja yang menolak, nyinyir dan melawan.

Jangankan presiden, Tuhan yang mengajak manusia bertobat saja tidak didengarkan. Sejak awal tatkala muncul di muka umum Sang Guru Kehidupan sudah menyerukan pentingnya orang bertobat. Alasannya? Karena Kerajaan Allah sudah dekat. Artinya, cinta Allah yang menyelamatkan sudah mewujud dan hadir nyata di tengah manusia.

Kehadiran-Nya adalah tanda konkret kasih dan penyelamatan. Tetapi banyak orang yang waktu itu mengikuti dan mendengarkan Dia masih meminta tanda. Seperti seorang yang sedang dicintai oleh kekasihnya masih meminta tanda bukti cinta.

Karena itu, Sang Guru mengatakan bahwa kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Inti dari tanda itu adalah seruan untuk bertobat. Mereka yang menanggapi seruan Yunus (penduduk kota Niniwe)  diselamatkan, karena Allah mengurungkan malapetaka yang hendak ditimpakan (Yun 3: 10).

Sedangkan mereka yang menolak seruan tobat itu akan mengalami hukuman pada hari kiamat. “Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!” (Luk 11: 31-32).

Seperti halnya para murid yang tidak mendengarkan nasihat baik dan bijak para gurunya akan mengalami kerugian di akhir proses pendidikannya, demikian pula yang menolak bertobat. Bangsa Indonesia juga akan terus menanggung akibat buruknya kalau tidak mengubah cara pikir dan kerjanya. Demikian pula manusia yang acuh tak acuh terhadap ajakan untuk bertobat dari Tuhan. Betapa pentingnya, menanggapi seruan pertobatan.

Shek O HK, 24 Februari 2021