Jangan Penjarakan Kemampuan Kita

Oleh Romo Felix Supranto, SS.CC

Asah kemampuan kapan dan di mana pun

Asah kemampuan kapan dan di mana pun.

SETAHUN yang lalu, teman saya dikeluarkan dari tempat kerjanya, bukan karena ia tidak memiliki kemampuan. Ia mempunyai banyak kemampuan dan ketrampilan yang sesuai dengan posisinya sekarang. Padahal, ia sudah lama bekerja di tempat itu. Namun demikian, ia justru bertumbuh menjadi pribadi yang tidak menghargai orang lain dan selalu menuntut haknya secara berlebihan. Benaknya dipenuhi dengan pikiran apa yang seharusnya ia dapatkan, tetapi ia tidak pernah mendapatkannya. Ia terus menerus berpikir bahwa posisi manager perusahaan itu yang sekarang dipegang oleh orang lain seharusnya lebih cocok untuk dirinya. Pikirannya itu membuatnya menjadi orang yang kurang bersyukur. Akibatnya, ia melakukan pekerjaannya dengan asal-asalan. Ia pun cenderung terus menerus menyalahkan orang lain atas hasil kerjanya yang tidak memuaskan.

Ketika kita sedang lelah dengan keadaan sekarang ini, kita hendaknya tidak membiarkan pikiran yang senantiasa menyalahkan orang lain berkeliaran di dalam benak kita. Orang yang terus menerus menyalahkan orang lain adalah orang yang tidak bisa bertanggungjawab atas apa yang ia katakan dan lakukan.

Pikiran-pikiran yang menyalahkan orang lain dapat menumpulkan kemampuan kita. Pikiran yang menyalahkan orang lain hanya akan meninggalkan luka pada sesama kita serta menghalangi kemajuan baik bagi orang lain maupun bagi diri kita sendiri.

Sebaliknya, kita hendaknya tetap berpikiran positif menghadapi segala situasi. Pikiran positif membangun harapan. Harapan dengan sendirinya akan memunculkan kemampuan-kemampuan kita yang selama ini tersebunyi untuk membawa kita meraih keberhasilan. Keberhasilan itu adalah keberhasilan yang membuahkan damai sejahtera karena sesuai dengan tuntunan Allah : “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Roma 8 : 5 – 6).

Salam tangguh!