ALERT

November 28, 2020

Oleh Romo Albertus Herwanta, O. Carm


Sang Guru Kehidupan bersabda, “Jagalah dirimu, jangan sampai hatimu sarat dengan pesta pora dan kemabukan serta kepentingan duniawi, dan jangan sampai hari Tuhan tiba-tiba datang jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat” (Luk. 21: 34). Salah satu kata kunci pentingnya adalah “jagalah dirimu” yang lebih tepat diterjemahkan dengan “alert.”

Dalam “alert” itu terkandung makna yang jauh lebih dalam dan kuat daripada berjaga atau jagalah. Di sana ada unsur “watch” (awasi), “attentive” (penuh perhatian) dan “awake” (sadar) akan segala sesuatu yang terjadi. Yang mesti diwaspadai itu adalah peristiwa yang mendadak; tidak bisa diprediksi.

Itulah kedatangan Tuhan yang akan menimpa setiap orang di muka bumi (Luk. 21: 35). Ini bisa diartikan kematian yang menjemput semua manusia, tanpa membedakan suku, etnis, agama, pilihan politik, jabatan, dan lain-lain. Kematian memang non-diskriminatif.

Yang membedakan bukan kematiannya, melainkan cara menghadapinya. Banyak orang yang mati secara bijaksana dan mulia dengan mempersiapkannya sepanjang hidup. Mereka mengisi hidupnya dengan iman, harap dan kasih seperti yang Tuhan ajarkan. Kapan pun ajal menjemput mereka siaga.

Ada pula orang yang menyongsong maut secara sembrono dan meremehkan. Mereka abai terhadap hukum kasih dan memenuhi hidupnya dengan kebencian. Ketika kuat mereka seperti berpesta pora dan mabuk kekuasaan. Bertindak seakan tiada yang dapat mengalahkannya. Tetapi tatkala dijemput malaikat maut, dia tidak akan terluput.

“Alert” yang diserukan oleh Sang Guru lebih dari sadar secara fisik-badani, tetapi juga secara rohani. “Berjaga-jagalah senantiasa, sambil berdoa, agar kalian mendapat kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan agar kalian tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk. 21: 36).

Orang diminta untuk berjaga sambil berdoa. Artinya, melibatkan Tuhan dalam hidupnya. Bukan supaya terluput dari kematian, karena maut akan menimpa semua orang. Tetapi supaya berkat kekuatan Tuhan manusia dibebaskan dari rasa takut terhadap maut. Barangsiapa sepanjang hidupnya secara tulus dan murni berserah kepada Tuhan, tidak perlu takut saat maut menjemput.

Seruan untuk selalu “alert” itu tidak hanya satu atau dua kali diserukan, tetapi amat sering. Lebih sering daripada seruan untuk menaati protokol kesehatan (pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan) dalam menghadapi virus corona yang setiap saat menyergap siapapun yang lengah. Mereka yang abai dan menyepelekan akan jadi korban pertama. Sedang yang selalu waspada dan taat bakal selamat.

Malang, 28 November 2020