Renungan Harian – Sabtu, 11 Juli 2020

July 12, 2020
renungan harian katolik
SABTU
(Putih)
11 JULI
S. Benediktus
Yesaya 6:1-8
Mazmur 93:1ab, 1c-2, 5
Matius 10:24-33
24 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. 25 Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. 26 Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. 27 Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. 28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. 29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. 30 Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. 31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. 32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. 33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”
WEJANGAN PERUTUSAN
“Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka” — Matius 10:26a
INJIL HARI ini diawali oleh sabda Yesus: “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya” (Mat 10:24). Di sini Yesus menegaskan agar para pengikut Yesus tidak boleh berharap diperlakukan lebih baik dari perlakuan yang diterima Yesus. Apa yang Yesus alami terutama sengsara dan kematian-Nya akan dialami pula oleh murid-murid-Nya. Untuk itu Tuhan Yesus memotivasi mereka dengan kata-kata yang diulang terus menerus yaitu jangan takut.
Berkat Sakramen Baptis dan Krisma, kitapun juga diutus memberitakan karya keselamatan ilahi agar orang-orang di sekitar kita dapat menerima Injil dan mengenal Kristus. Memang tugas perutusan ini tidak mudah dan penuh tantangan apalagi di tengah-tengah masyarakat yang sebagian besar belum menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup mereka. Namun demikian, jujur saja, sudahkah kita bersedia melakukan tugas perutusan ini ? Apakah saat ini, kita masih berada dalam situasi takut bila menjalani panggilan perutusan ?
“Janganlah kamu takut…!” (Mat 10:26.28). Maksudnya:
Yang pertama bahwa hendaklah kita jangan takut memberitakan Sabda Tuhan. Beritakanlah dengan jelas, terus terang dan apa adanya.
Yang kedua, hendaklah kita jangan takut terhadap orang-orang yang menghalangi tugas kerasulan kita. Kita mesti cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat 10: 16). Tuhan Yesus berjanji akan memelihara kita bahkan setiap rambut kita Tuhan perhatikan.
Yang ketiga, janganlah kita takut, karena kita lebih berharga daripada banyak burung pipit. Burung pipit yang kecil dan lemah itu, Tuhan tidak membiarkannya jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan-Nya apalagi anda dan saya, pasti Tuhan menjaga dan memelihara kita ketika kita melakukan tugas-tugas perutusan dari-Nya.
Kita tidak perlu takut kepada apa yang akan dilakukan orang atas kita, tetapi kita mesti takut hanya kepada Allah sebab Allah yang menentukan hidup atau mati kita. Akhirnya, dalam menjawab panggilan tugas perutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah, kita disadarkan bahwa kita telah menerima dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini berarti mau hidup seperti Yesus yang tidak pernah kuatir dan takut, berani menderita sengsara serta bersikap tabah dalam menyelesaikan tugas yang Dia terima dari Bapa-Nya.
Yesus tetap setia dan selalu menyertai kita ke mana pun kita diutus . (RIC)
DOA: Allah Bapa, berilah kami keberanian untuk menerima tugas perutusan-Mu. Berikan kami hati seperti hati Putra-Mu.
JANJI :“TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang.” — Mazmur 93:1
PUJIAN : Pada waktu mendapat penglihatan Tuhan sedang duduk di atas tahta yang maha tinggi, Nabi Yesaya merasa sebagai orang yang najis. Ketika Tuhan bertanya kepadanya: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Jawab Yesaya: “Ini aku, utuslah aku!”. Ia dipakai Tuhan dalam menyampaikan Sabda-Nya tanpa ada rasa takut dan kuatir.